Menelusuri Sejarah Jambi (1)

Senin, 06 Januari 2020 | 09:39:07 WIB

Bicara soal sejarah Jambi, sebagian berpendapat bahwa nama Jambi ini bermula sejak daerah ini dikendalikan oleh seorang raja/ratu bernama Putri Selaras Pinang Masak. Yaitu semasa bangkit kembali dari keterikatan dengan Kerajaan Majapahit.

Waktu itu, bahasa keraton masih dalam pengaruh campuran bahasa Jawa. Di antaranya kata pinang yang disebut Jambi. Karena itu sesuai dengan nama rajanya, Pinang. Masa kerajaan itu disebut kerajaan Melayu Jambi.

Lambat-laun, rakyat umum setempat menyebut Jambi versi ini ditimpa oleh salah satu versi lain. Seperti yang tertulis dalam satu sejarah, menurut berita Cina dari seorang penulisnya, Seng Hui Yao, pada tahun 1082, kerajaan Jambi masih utuh berdiri sendiri.

Kata Jambi ini ditulisnya dengan aksara Cina dengan bacaan Chen Pei. Berdasarkan ini jelaslah versi pertama tadi yang mengaitkan nama Putri Pinang Masak itu amat jauh sekali kebenarannya, dari berita Cina yang berjarak 300 tahun sebelumnya.

Versi ke-3 Kota Jambi ini sebelum ditemui oleh Orang Kayo Hitam atau sebelum disebut Tanah Pilih, bernama kampung 'Jam', yang berdekatan dengan sebuah negeri ataupun desa bernama kampung teladan. Diperkirakan berada di sekitar daerah Buluran Kenali sekarang. Berasal dari kampung Jam inilah akhirnya disebut Jambi.

Versi keempat dapat juga dikatakan versi rabaan, dengan berpedoman pada buku sejarah De Outsde Geschiedenis Van de Archiepel. Bahasa kerajaan Melayu Jambi ini dari abad ke-7 sampai abad ke-13 adalah sebagai bandar atau pelabuhan dagang yang besar dan ramai, di mana berdatangan dan berlabuh kapal-kapal dari berbagai bangsa, seperti bangsa Portugis, India, Mesir, Cina dan Arab serta bangsa Eropa lainnya.

Berkenaan dengan itu sebuah legenda yang ditulis oleh Chaniago menceritakan, bahwa sebelum kerajaan Melayu ini jatuh ke dalam pengaruh Hindu, pada satu masa seorang putri Melayu bernama Putri Dewani pergi berlayar bersama suaminya menumpang kapal niaga Mesir, ke negeri Arab dan tidak kembali lagi.

Peristiwa berikutnya menurut legenda itu, pada masa yang lain seorang putri Melayu yang lain lagi bernama Ratna Wali bersama suaminya juga berlayar ke negeri Arab, dan dari sana merantau ke Ruhum Jani dengan menumpang kapal niaga Arab.

Kedua cerita dalam legenda itu menunjukkan adanya hubungan antara orang Arab atau Mesir dengan orang Melayu, yang tentu adanya komunikasi tatap muka secara akrab. Dengan dasar cerita di atas ini timbullah interprestasi lain bahwa nama Jambi ini bukan tidak mungkin bermula keluarnya dari mulut orang-orang Arab atau Mesir, yang telah berkali-kali ke pelabuhan Melayu ini.

Orang-orang Arab atau Mesir memberikan julukan yang sesuai dengan situasi dan psikologis rakyatnya pada masa itu. Kata Jambi ditulis dengan aksara Arab, secara harfiah berarti sisi samping. Tetapi dalam pengertiannya secara kinayah, berarti tetangga, yakni orang atau sahabat akrab.

Versi mana yang dan mana yang salah, atau semuanya yang salah? Kita tak dapat menentukannya dengan pasti. Jelasnya daerah ini dan ibu kotanya sudah bernama Jambi. (*)

*sumber : Museum Perjuangan Rakyat Jambi






BERITA BERIKUTNYA

loading...